Tersingkirlah Penyendiri

Cacat mental
Mungkin itu sebutannya
Bergejolak melawan tanpa ada tindakan
Trauma mengalir seperti hujan
Menjadi perih jika terlalu lama

Cacat sosial
Diam itu suci baginya
Menerka-nerka dengan hati
Menjadi prasangka yang bisa saja terjadi
Keruh merubah hidupnya

Cacat sendiri
Rapuh mencuat menjadi terbiasa
Kala tangis bukan lagi penawar
Ucapan tak lagi bermakna
Sapaan menjadi suatu hal tabu

Benci
Menjadi sadar yang sesadar-sadarnya
Mengalah karena memang kalah
Menjauh karena telah hancur

Menjadi tusuk duri yang hanya terus menyakiti
Yang pantas dibuang
Yang pantas tak dihiraukan
Yang pantas ditiadakan

Meraup secerca harap yang telah tiada
Biarkan sendiri lalu menepi
Menengah untuk tenggelam
Aku, mati…

Advertisements

Dunia Peran

Berapa topeng yang telah kau pakai hari ini?
Atau, berapa topeng yang telah kau jumpai?
Kusut..

Ya hati yang kusut tak percaya
Mengumpat dibalik topeng tentang sesama
Jikalau hanya ingin memiliki pemerhati jangan memakai topeng
Beri saja mereka uang atau suapan kata cinta
Yang jelas terdengar palsu

Apa tidak kau rasa? Dimana hatimu?
Kau melihat pakai kaki yang tak punya hati
Berjalan dengan sombong dan berkata
“aku ini sudah dewasa, sudah mencicipi paitnya pare dan manisnya aren”
Lagi kau berkata, “aku ini bijak”
Benci sekali kuungkap

Umurmu tak mencerminkan dirimu
Tua muda pikiran yang penting
Bahkan jikalau kubandingkan
Umur 20 atau 40 tahun jauh lebih baik bayi 5 tahun atau anak berumur 9 tahun
Tuamu tak berarti

00.13, Fibi kusut

Asa Untuk Rasa

Entah. Mana mungkin perasaanku bisa segila ini? Hanyut dengan segala tipu daya kenangan yang selalu kucoba tepis dan kutekankan kejadian itu tak perlu dikenang. Bagaimana mana mungkin kejadian indah dikenang padahal kenyataannya sekarang tak seindah itu?

Gemerlap kenangan memang menyenangkan. Bisa dikatakan menenangkan. Tetapi, akankah kita hidup dalam bayangan? Bayangan yang nyata nan menyakitkan?

Apa boleh dikata kalau sudah seperti itu. Berjuta pertanyaan akan luluh dengan satu jawaban “kepastian”. Satu jawaban akan kembali menuai berjuta pertanyaan kembali. Selalu seperti itu.

Terkadang jawaban itu tidak akan membuat selesai suatu kenyataan bahkan akan membuat sebuah pertanyaan lagi.

23.56, Fibi berkata

“Aku Belum Berhijab, Aku Percaya Allah”

Hidup terlalu singkat jika dilakukan untuk ibadah. Hidup terlalu panjang jika dilakukan untuk bersenang-senang.

Diumur 19 tahun aku berangkat ke Jakarta untuk bekerja di salah satu perusahaan besar optik di Indonesia. Aku ditempatkan didivisi lensa. Dan sudah berjalan setahun lebih hingga umurku sekarang menginjak 20 tahun. Awalnya aku tinggal di mes perusahaan dan banyak hal yang sudah aku alami yah pahit manislah yang sudah aku rasakan. Dilupakan sih enggak yang manis saja yang perlu diingat.
Suatu hari ada kejadian yang belum pernah aku alami selama hidup yah ringan aja sih hanya saja efeknya besar buatku. Suatu hari di hari minggu aku pergi bersama temanku, berdua kita ke Kota Bogor. Awalnya kita ke Pasar Baru dengan tujuan mencari penjahit, selesai itu kita bosan kalau balik ke mes jadi kita ke Bogor. Kita naik KRL, karena stasiunnya paling ujung waktu yang ditempuh sekitar 1,5 jam.

Sampai di Bogor kita jalan-jalan, ya biasalah kalau wanita pasti jajan lalu makan lalu ngobrol. Hingga akhirnya kita menemukan penjual buku di belakang stasiun seingatku. Penjualnya seorang bapak yang aku rasa berumur 60 tahun. Disitu kita tawar menawar yang paling banyak beli sih temenku aku hanya membeli satu yang sejak SMK kucari di Pasar Buku Wilis di Kota Malang tidak ada. Kita juga banyak ngobrol sama bapaknya, beliau banyak membaca ternyata dan aku rasa buku yang beliau jual beliau mengerti isinya. Saat proses menawar ada satu bapak yang nongkrong dekat situ nyeletuk, “Udah kasih aja lumayan”. Kita bergeming sesaat saling berpikir bagaimana caranya agar sama-sama mau, mau menukar uang dengan buku. Di sela-sela itu aku banyak ngrekomendasiin buku ke temenku dan aku sesekali melihat bapak penjualnya. Beliau menunduk dan mulutnya berkomat-kamit yang ku lihat beliau mengucapkan dzikir, disitu aku terenyuh sedikit tergetar hati ini juga malu. Malu karena muda kalah dengan yang lebih tua.

Hingga akhirnya kita ada kesepakatan, kita pun langsung melakukan transaksi dan beranjak pergi. Saat baru saja berjalan aku meoleh ke arah bapaknya dan kulihat sedikit kudengar beliau bergumam, “Alhamdulillah laku..” . Aku pun tersenyum puas entah ada yang melihatnya atau tidak. Mengapa aku tersenyum, aku sadar itu karena Allah. Aku sadar memang jalannya Allah memberi umatnya rezeki banyak sekali.

Mari berlogika, di Pasar Baru ada gramedia kenapa enggak beli buku disitu saja? Di Bogor ada gramedia juga atau toko buku atau pun penjual buku yang lainnya, kenapa kita membeli buku pada bapak itu? Jawabannya yaitu jalan dari Allah, kita enggak berencana. Rezekinya juga bukan dari aku dan temanku karena kita tidak berencana membeli atau mengasihi dengan cuma-cuma. Itu semua karena Allah. Tidak perlu aku jelasin kalau kalian peka kalian akan merasakan kebesaran-Nya.

Di hari yang sama tetapi beda tempat, di stasiun KRL Bogor. Saat itu aku baru saja keluar dari minimarket untuk membeli minum tiba-tiba ada bapak-bapak yang kurasa berumur 50 tahunan menghampiriku dan temanku, “ Mbak.. mbak..” sontak kita berdua langsung berbalik badan.

“Iya pak” jawabku.

“Mbak boleh minta uangnya dua ribu buat tambah beli popmie.. ini aja enggak tau cukup apa enggak soalnya uang saya cuma empat ribu..” jelasnya. Dan kita berdua masih tertegun tetapi temanku sadarnya cepat sekali aku rasa.

“Oiya ini pak ada” jawab temanku lalu memberi uang yang tidak aku ketahui berapa. Dari situ aku langsung sadar, “oo iyaa.. ini pak ada sedikit”

“Terimakasih ya mbak, soalnya saya dari tadi pagi belum makan..”

“Iya pak sama-sama” jawab kita, kita tanpa rasa bersalah bisa dibilang seperti tidak terjadi beban. Kita pun berlalu.

Kita pun berjalan sedikit cepat karena kereta sudah datang, “Mbak, aku kok cuma ngasih segitu sih..” aku menyesal akhirnya memberi uang itu yang nominalnya tidak bisa kusebutkan karena kurasa bapak-bapak itu butuh lebih.

“Udah Bi enggak apa-apa yang penting kita udah bantuin. Tapi tadi orangnya manggilnya ke kamu loh Bi..” jawabnya.

“Enggak ke kita lah. Tapi tetep aja itu pasti kurang, terus aku tadi juga kayak nggak sadar. Nggak sadarnya gini kok dari sebanyak orang disini kita gitu..” jelasku sedikit menerka-nerka.

“Ke kamu orang ngadepnya ke kamu. Udah Bi insya Allah itu bermanfaat yang penting mah ikhlas” jawab temanku, baru saja kereta berjalan bapak yang tadi lewat menjajari gerbong dengan cup popminya. Sempat meneteskan air mata dan lebih tepatnya berasa dipukul pakai besi.
Dari banyaknya orang di area stasiun mengapa aku dan temanku? Aku sadar harusnya aku lebih banyak bersyukur lagi dan selalu menyisihkan sedikit uang untuk beramal. Mungkin aku kurang amal makanya diingatkan dari situ oleh Allah.

Pernah lagi suatu hari sekitar jam 12 siang saat di Stasiun Juanda Jakpus aku tergesa-gesa karena ada interview. Di depanku ada lelaki kurasa berumur 25 tahunan memakin peci dan baju koko menurutku ia baru saja pulang dari Masjid Istqlal sehabis mengikuti pengajian. Sambil berjalan ia menjajari perempuan yang masih remaja yang aku rasa ia SMA lelaki itu berkata, “Kak boleh minta uangnya dua ribu aja buat tambah isi saldo KRL..” ucapnya dengan sedikit malu. Remaja itu tersenyum dan mengangguk lalu membuka resleting tasnya sembari memberi uang kertas dua ribuan dengan senyum yang kulihat tulus sekali. Lelaki itu langsung mengucapkan terimakasih dengan tersenyum lalu bergegas berjalan lebih dulu. Batinku, “Mungkin dia tadi berdoa pas shalat dhuhur minta ongkos sama Allah.. beruntung sekali Subhanallah…”

Tidak perlu aku jelaskan apa maksud dari cerita-cerita diatas, pembaca tahu maksud saya. Segala sesuatu intinya dari Allah. Mari lebih menerima dan menghargai, bersyukur dan menjaga pemberian-Nya.
Aku memang tidak berhijab dan bukan berarti tidak memiliki iman atau tidak perduli dengan-Nya. Dengan kejadian seperti itu setiap kali rasanya aku seperti digaplok, mengingatkanku dengan dosa dan harusnya aku berhijab. Ku tau hijab memang wajib, wanita berakhlak atau pun tidak yang namanya hijab tetap saja wajib. Aku sadar akan hal itu. Hanya saja aku belum siap, takutnya aku labil itu saja. Semoga Allah segera memberi jalan. Aminn..
Terimakasih pembaca telah membaca…

WordPress.com.

Up ↑